Thursday, February 5, 2009

Tuah & Jebat

Sewaktu kecil, seringkali kita dicekcoki dengan kisah Hang Jebat dan Hang Tuah. Mirip lagenda, entah seberapa banyak yang nyata antara kesaktian tameng sari sampai ketaatan tak berbelah bagi seorang Tuah. Yang aku tahu Hang Tuah sering digambarkan sebagai wira, kesatria yang pintar berpencak silat, digandrungi para wanita dan akhirnya watak tragedi yang pada hujungnya kembali membuktikan kesetiaan meski titah atas kepalanya membuat sang bendahara terpaksa berbohong kepada sultan. Anak kecil pasti lebih tertarik dengan keperkasaan sang wira dan mungkin simpati dengan harga yang harus dibayar kerana cenderung watak utama ada kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi yang membuktikan bahwa dirinya seorang wira.
Jebat pula mendapat peran antagonis, meski baru terlihat pada akhir cerita. Berkhianat kerana setia. Bukan tipikal melayu, akan tetapi penceritaan jebat sering datang dengan konotasi-konotasi negatif. Kebiasaan dari suatu penceritaan samaada untuk membela golongan tertentu atau menekankan kebiasaan atau hukum tertentu yang tidak boleh dilanggar. Aku biasa percaya bahwa sejarah punya kecenderungan memihak yang menang. Entah bagaimana sekiranya seorang jebat yang menang dalam pertarungan tersebut, apakah kemudian jebat yang menjadi wira. Mungkinkah tradisi Melayu akan mula berbicara bahwa kebenaran lebih besar dari raja.
Entah sejak kapan aku mula melihat jebat sebagai seorang wira. Setia kawan dan tidak terima Sultan lebih percaya fitnah dari pelayannya yang setia. Bahkan barangkali seorang jebat tewas bukan kerana kemampuannya yang kurang, dia hanya tidak tega. Sedang tuah mereguk darah saudaranya demi setia kepada raja. Filosofi yang aku percaya sudah seharusnya ditinggalkan. Bukan aku ingin durhaka, akan tetapi aku selalu percaya keadilan harus ditegakkan, entah itu seorang sultan atau hanya seorang bapa. Abu Bakar r.a. sendiri tidak segan menyuruh rakyatnya meluruskannya sekiranya dia menyimpang.
Kejadian terbaru yang berlaku di tanah air merupakan titik balik pada sebuah gelombang kebangkitan rakyat . Pengkhianatan demi pengkhianatan kepada rakyat. Amanah-amanah yang dilalaikan. Alih-alih intrik-intrik kotor demi kepuasan atas kekuasaan tanpa kendali iman. Dan harapan kepada seorang raja, hanya tinggal harapan. Entah ini pengkhianatan atau sekadar titah, atau seorang raja tidak mungkin berkhianat, hanya rakyat yang harus setia seperti seorang Tuah. Entah bagaimana tafsiran atas keadilan, yang pasti sejarah selalu dicoret menurut versi sang pemenang. Akan tetapi entah kenapa, aku malah merasa tewasnya jebat adalah kemenangan. Ampun Tuanku bukan niat hamba untuk durhaka…..

2 comments:

halaa said...

owh, kiranya perak mengulangi apa yg terjadi di melaka beratus tahun dahulu. hehe... skrg dah ada Jebat the Second... hehe... nice view though... ;)

ibn taqiyyah said...

Thanks. Biasanya orang mengambil sejarah menjadi panduan. Pengulangan dengan situasi berbeza. Kali ini rakyat dibelakang "Jebat". Sultan juga harus belajar dari sejarah.