Wednesday, January 14, 2009

anak-anak rafah

Mata-mata jernih itu,
memandang kejauhan.
awan-awan biru
yang beberapa hari ini berubah kelabu
sesekali percikan api muncul
mewarnai langit dengan warna emas
sungguh pemandangan yang jarang.
bagi tubuh-tubuh kerdil
itu bunga api
yang biasanya muncul pada tahun baru
atau hari raya aidilfitri.

Si kecil tertawa girang
atas pertunjukan yang jarang

Mata-mata jernih itu,
masih memandang ke kejauhan
awan di seberang kota,
apa tetangganya lagi berpesta?
hujan bunga api tidak pernah berhenti.
Tahun baru sudah lewat, aidilfitri juga masih jauh.

Si kecil hairan
atas kejadian yang jarang

Mata-mata jernih itu,
memandang jejeran truk-truk yang panjang,
mahu kemana? kenapa muatannya banyak sekali?
Apa ada perjamuan raksasa?
Kenapa cuma berhenti disini berhari-hari?

si kecil bertanya-tanya
atas keberangkatan yang tidak juga pergi

Mata-mata jernih itu,
berkaca-kaca
bulir-bulir jernih itu, air mata?
Langit kota sahabatnya masih bercahaya.
Apa si kecil cemburu?
tapi wajahnya terlihat berduka.

Aku yang terpinga,
si kecil tanpa dosa menangis tiba-tiba

Ku sapa dia dari kejauhan
tangannya terngadah.
kepalanya mendongak.
matanya memandang kejap.
ke langit terbuka.

Kulihat
mulutnya komat-kamit,
kudengarkan butir-butir kata
yang terbata-bata
kerna ada isak tangis

si kecil lagi berdoa,
kepadamu Ya Allah.
untuk teman-temannya
yang kesakitan dan menderita
dihujani roket dan bedil-bedil mesiu

Mata-mata jernih itu,
kini membara
kepada Yang Maha Kuasa
dia memanjat doa
semoga musuh temannya itu
hancur binasa.

kurasa si kecil kini mengerti
apa yang terjadi di kota tetangganya

si kecil melangkah pulang
kupikir dia lapar
meninggalkan teman-teman sepermainan
untuk roti makan tengahari

Aku masih disitu
ketika si kecil kembali
ada yang disembunyikan ditangannya
batangan kayu dengan ujung besi
Aku sapa dan bertanya
mahu ke mana dengan sebuah tukul besi?
wajah polos itu memandangku ragu
tangannya diangkat lurus
kuikuti arah telunjuknya
tepat di tembok pemisah,
pagar perbatasan yang menghalangi jejeran truk-truk...
mataku bertemu gaza

Friday, December 5, 2008

Percaya

Hatiku miris. Seorang ibu lewat kaca televisi menangis. Aku tidak dapat memahami semua yang diluahkan olehnya. Akan tetapi, tangisan dan air muka seorang ibu dari Maluku yang mengumpulkan wang dari hasil jualan padinya bertahun-tahun untuk naik haji itu cukup ku fahami. Dia batal berangkat. Agennya menipu. Meski lambaian Kaabah sudah sebegitu dekatnya. Meski dia sudah berada di Soekarno-Hatta. Menunggu penerbangan ke Jeddah yang tidak mungkin ada buatnya.

Memang bukan rezkinya ibu itu dan beberapa lagi yang lain untuk menunaikan rukun Islam yang kelima pada tahun ini. Apa kerana silap langkah atau terlalu mudah mempercayai? Apa kerana penipunya terlalu pintar? Tetap kerinduan yang tidak terbendung hanya bisa mengalir lewat bulir-bulir air mata. Sungguh penipuan telah menjadi lumrah. Apakah nilai kepercayaan tidak lagi eksis? Masyarakat bagaimanakah yang bisa hidup aman dan bahagia bila dalam hidupnya tidak bisa lagi mempercayai. Kerana bila sudah tidak percaya yang tersisa hanya curiga. Syak-wasangka yang sewaktu-waktu bisa memecah persaudaraan dan pertemanan.

Mungkin ibu itu masih bisa berhaji pada tahun depan sekiranya ada kesempatan umur dan kesehatan. Akan tetapi itu bila wangnya bisa kembali secara utuh kepadanya. Mungkin jika ada bantuan simpati dalam masyarakat ini. Aku masih percaya akan kebaikan hati yang masih wujud meski di tengah-tengah persaingan antara sesama. Meski penilaian sudah berhenti hanya pada aspek2 material.

Teringat aku seorang tukang becak. Dahinya berbekas tanda sujud. Kutemukan pada waktu solat asar di masjid. Selesai berdoa dia kembali mengayuh becak. Sungguh meski tidak ramai tukang becak yang kutemukan seperti dia. Ternyata masih ada kesejukan dalam masyarakat ini. Kalau kita mencari, ada kebaikan-kebaikan yang tersembunyi. Ternyata persangkaan buruk kita tentang seseorang atau sesuatu tidak semuanya benar. Bahkan kita akan hairan dengan kebaikan yang kita temukan pada tempat dan orang yang tidak kita sangka-sangka. Teringat ibu tadi, aku berdoa semoga dia diberikan kesempatan untuk berhaji. Lebih penting lagi semoga dia tidak menambah daftar panjang kecurigaan dalam berinteraksi. Moga lebih arif dalam menilai. Sungguh aku merindukan zaman-zaman kegemilanga tamadun kerana kearifan dan masyarakatnya saling berkasih-sayang.

Sunday, November 16, 2008

Langkah Pertama

Orang bijak pandai ada mengatakan perjalanan seribu batu bermula dari satu langkah yang pertama.

Begitulah dalam lembar-lembar kehidupan yang telah dan akan kita lalui, kita sering dituntut untuk mengambil langkah pertama , kerana bermula darinya, barulah episod yang bernama kehidupan terungkap satu demi satu.

Meski kata-kata yang terlafazkan; mudah seiring ringannya lidah, tetap hati kita tidak jarang diterpa keraguan, bermonolog dengan segala kemungkinan kerana kita tahu bahawa konsekuensinya tidak mudah, risikonya tak terjangkakan dan kesudahannya adalah penamat; bisa saja sukses dan bisa juga gagal.

Meninggalkan kampung halaman dan kehangatan kasih keluarga demi sebuah cita, kita semua sebenarnya telahpun mengambil langkah yang pertama. Sedar ataupun tidak.

Justeru dalam ketidakpastian dan mungkin sedikit prasangka yang menyelubungi, kita masing-masing menggagahkan diri, mengambil langkah dalam sangsi, apa benar ini langkah yang harus kita ambil? Apa kita tidak salah?

Keraguan pasti menghunjam meski dalam lubuk hati yang paling dalam sekalipun. Akan tetapi, buka mata dan lihat keberadaan dan eksistensi kita di atas bumi yang asing ini adalah suatu yang nyata. Ada beban yang tidak sedikit dari cita-cita yang cuba kita raih.

Barangkali rasa dan perasaan yang serupa dirasakan oleh seorang Umar bin Abdul Aziz apabila diberikan amanah sebagai khalifah. Langkah pertama baginya terasa sungguh berat dan sulit. Meninggalkan kemewahan seorang bangsawan yang dilakoninya sejak kecil untuk sebuah kehidupan yang sangat sederhana. Langkah pertama yang diambilnya menuntut sebesar-besar pengorbanan kerana tidak ada lagi akhir yang dia dambakan, tidak ada lagi matlamat yang lebih tinggi yang dia harapkan selain syurga.

Segalanya bermula dari langkah pertamanya yang menanggalkan segala kebesaran raja sehingga akhir perjalanan masa kekhalifahannya yang singkat merupakan momen paling cemerlang dalam catatan sejarah sepanjang pemerintahan khilafah Umayyah.

Menepis keraguan dan menetapkan akhir dari sebuah perjalanan hidupnya, tekad inilah yang telah menghantar namanya yang harum sebagai Khalifah Ar-Rasyidin yang kelima.

Maka, bermula dengan langkah yang pertama, harus ada tekad dan matlamat sekeras baja, rencana kesudahan dari akhir perjalanan seharusnya sudah disemat awal-awal dan usaha-usaha merealisasikannya sudah bergerak dari sekarang, kerana langkah pertama ini adalah langkah yang menentukan...

Saturday, July 26, 2008

Dokter dan Tuhan!

assalamualaikum semua...
dalam kesibukan ini..aku ambil sikit waktu untuk kongsi dengan korang semua...
bukan apa..sekadar saling mengingatkan...

memang profesi yang kebanyakan kita kejar sekarang adalah sebuah profesi yang sangat mulia...tetapi kita harus ingat...jangan plak kita merasa diri kita sangat mulia... kemuliaan hanya milik Allah...

semua yang kita belajar (ilmu kedokteran) selama ini hanyalah sebagai alat dan ikhtiar... tetapi yang akhirnya ...the final result...tetap milik Allah...

Jangan seperti Firaun yang merasa dirinya seperti tuhan...yang bisa mematikan dan menghidupkan...

waktu kat obgyn ni selalu gak dihadapkan dengan kematian....kadang2 ada perasaan seronok bila dapat membantu melahirkan bayi.... ada kepuasan tersendiri... tetapi terkadang banyak juga berhadapan dengan kematian. Janin yang awalnya kita rasa dalam keadaan yang baik....tunggu melahirkan...tup...tiba2 DJJ (denyut jantung janin) hilang.... Masyaallah...sungguh kita sebenarnya manusia yang tidak berdaya....

memang terkadang profesi ini bisa mendekatkan diri dengan Allah...tapi tidak kurang yang membuatkan para dokter dan calon dokter malah lebih jauh dari Khalik. merasa hebat. Sombong.

jadi ingatlah...dokter bukan Tuhan... berdoalah...semoga iman tetap di hati... teruskan belajar...semoga setiap ilmu yang kita peroleh mendekatkan diri kita dengan Allah.

"Ya Allah..Kau yang menghidupkan dan Engkau jugalah yang mematikan"



P/S : esok nak gi gowa..seminggu kat sana..doakan aku..

Monday, July 7, 2008

RSWS!! Oh RSWS!!

Nah..lihatlah kondisi disekitar UGD (unit gawat darurat) di Rumah Sakit Wihidin Sudirohusodo. RSWS merupakan rumah sakit rujukan untuk daerah Indonesia timur. Dipadati dengan keluarga patient. Siap berkampung lagi. Cuba teliti gambar di bawah. Siap ada kompor (dapur) gas lagi. Huhu..akhirnya jadi Rumah Sakit Wisata Sekeluarga (RSWS). Tetapi sebenarnya kebanyakan dari mereka adalah masyarakat kampung yang tinggal jauh di daerah, jauh dari Makassar.

Kat Belakang UGD

Pintu Belakang UGD

Bukan untuk mengajak anda melihat kelemahan management rumah sakit. Tapi kami ingin berkongsi dengan anda, kami ingin anda melihat, buka mata dan hati anda. Inilah kondisi dan kultur masyarakat yang akan dihadapi oleh anda (adik-adik di FK-UNHAS).
Ketika Allah swt menurunkun wahyu yang pertama mengajak kita supaya membaca, bukan sekadar membaca tulisan-tulisan, tetapi juga supaya kita bisa membaca setiap situasi pada setiap kondisi. Dalam proses membentuk peribadi seorang dokter muslim yang soleh dan musleh, kita harus jeli, dan sentiasa sensitif dengan keadaan lingkungan kita. Setiap masyarakat mempunyai kultur dan gaya hidup masing-masing. Kemampuan untuk membaca dan mencerna kultur di setiap lingkup masyarakat amat penting, guna membawa perbaikan dalam masyarakat yang multikultural.

Contohnya kalau patient yang perlu dilakukan pembedahan @ operasi, untuk mendapat persetujuan keluarga terkadang butuh beberapa hari bahkan berminggu-minggu. Tunggu persetujuan dari Atuk di kampong, nenek, tante, Om, dan lain2 lagi. Tetapi apakah tindakan kita dalam kondisi ini? Adakah wajar untuk kita memarahi keluarga si patient tersebut? Atau meneruskan tindakan operasi yang jelas-jelas melanggar undang-undang? Nah! Fikirkan.

Contoh lagi...patient yang datang dengan open fracture...yang jelas2 memerlukan tindakan operasi. Tetapi patient minta untuk pulang ke rumah dan berobat di dukun. Mungkin kerana takut dioperasi, tiada biaya, dan bla..bla..bla…banyak lagi alasan yang terkadang tidak masuk di akal. Tetapi itulah persepsi yang ada di masyarakat. Nah..apakah yang akan anda lakukan? Tidak mudah untuk meyakinkan patient. Saran anda?

Sekadar untuk membuka mata anda…lihatlah…fikirkanlah.

Friday, July 4, 2008

hamba

Tenggelam…

Dalam gaduh-gelisah yang tak berdasar

Hitam pekat tak tertembus sinar

Hanya kebutaan yang memimpin

Langkah tertatih-tatih

Memanggul jiwa ringkih

Mulut komat-kamit berdoa

Tangan terus berayun ke atas

Mencari permukaan yang tak terlihat

Dalam titik-titik noda

Cermin tak lagi mampu merefleksi sinar

Apa kedalaman yang melemaskan atau

Mata tak mampu lagi menatap cahaya?

PEDULI

Pernahkah kita merenung gelapnya malam? Atau cemerlang senja di ufuk langit? Barangkali dalam jeda kehidupan, kita pernah melakukannya. Tetapi persoalan yang lebih penting; apakah makna dari perenungan kita? Adakah Cuma pandangan kosong, ataupun punya erti-erti lain. Perenungan kita… kitalah yang mendefinisikannya.

Pernahkah kita bertanya mengapa malam itu gelap? Mengapa langit senja sebegitu merahnya? Barangkali sebahagian dari kita pernah, dan sebahagian yang lain bahkan tidak pernah mendapatkan momentum untuk sekadar mengambil tahu.

Dalam kehidupan sehari-hari, mengambil tahu itu adalah peduli. Bagaimana subuh kita pagi ini? Barangkali kita boleh tersenyum lega kerana subuh kita ‘selamat’. Alhamdulillah. Tetapi, masih ada lagi persoalan yang mengiringi. Sudahkah teman serumah atau sebilik kita menunaikan solat subuh pada pagi ini?

Ini adalah persoalan kepedulian. Adakah kita prihatin dengan keadaan teman kita, sahabat kita dan saudara-saudara kita? Sabda Baginda S.A.W. “Siapa yang berpagi-pagi dan tidak mempedulikan urusan kaum Muslimin, bukanlah dia dari kalangan mereka”

Bagaimana kondisi teman kita pada hari ini? Sihatkah? Sakitkah? Sudah makan atau belum? Sedang kesulitan atau lagi senang? Inilah persoalan yang paling dekat dengan skenario kehidupan seharian kita. Menebar kepedulian merupakan bahagian dari kehidupan. Indahnya Islam, semua yang bernaung di bawah kalimah-Nya adalah bersaudara.

Tidak kira di belahan bumi mana sekalipun, asal kalimah Tauhid yang sama kita pegang, kita adalah bersaudara, dan rasa persaudaraan ini punya tanggungjawabnya yang tersendiri. Kepedulian merupakan satu ranting dari cabang-cabang pohon ukhuwwah. Palestin, Iraq, bahkan bumi yang kita jejaki sekarang ini, adalah bumi Umat Islam. Apakah bentuk kepedulian kita pada nasib mereka, meski sekadar lewat sepotong doa pengharapan.

Peduli, barangkali merupakan satu perkataan dengan enam abjad. Tetapi menebar kepedulian lewat kata-kata sapa atau senyuman, punya makna-makna yang dapat mewarnai hari-hari kita. Jangan sampai kita menjadi renggang kerana tidak peduli. Renungkanlah, betapa kepedulian punya kesenangannya yang tersendiri.